Beranda > Seputar Jakarta > Becak di Batavia

Becak di Batavia

Betawi Post, Kamis 23 Juni 2011 – Becak Jakarta tinggal nama. Sejak 1980-an becak dilarang beroperasi di Jakarta karena dianggap menghambat jalan dan membuat kemacetan lalu lintas. Bahkan dipandang tidak manusiawi karena ’mengeksploitasi manusia’. Kata becak berasal dari dialek Hokkian, salah satu rumpun bahasa di Cina, be chia yang berarti kereta kuda.

Diperkirakan becak yang mula-mula diciptakan orang Jepang sekitar tahun 1865. Waktu itu becak belum dikayuh, tetapi ditarik atau didorong tenaga manusia. Lambat laun popularitas becak menyeberang ke daratan Cina. Selanjutnya para imigran Cina membawa alat transportasi ini ke negara-negara seperti India dan Singapura.

Belum begitu jelas bilamana becak dikenal di Indonesia. Diduga, sebagaimana ditulis dalam http://www.majalah-historia.com, becak didatangkan ke Batavia dari Singapura dan Hongkong pada 1930-an.

Pendapat lain mengatakan becak diperkenalkan dari Makassar ke Batavia akhir 1930-an. Dasarnya adalah catatan perjalanan seorang wartawan Jepang ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk Makassar. Dalam terbitan 1937 itu disebutkan, becak ditemukan orang Jepang yang tinggal di Makassar, bernama Seiko-san. Dia adalah pemilik toko sepeda. Karena penjualan seret, dia memodifikasi sepeda yang tak terjual itu menjadi kendaraan roda tiga.

Menurut majalah Star Weekly (1960), becak masuk ke Indonesia awal abad ke-20 untuk keperluan pedagang Tionghoa mengangkut barang. Pada 1937 becak dikenal dengan nama “roda tiga”. Sebutan becak baru digunakan pada 1940 ketika becak berfungsi masal sebagai kendaraan umum.

Tim Hannigan dalam http://www.kabarmag.com mengatakan, becak yang membawa penumpang memenuhi jalan-jalan di Batavia baru terlihat pada 1936. Sebelumnya, selama bertahun-tahun, dikenal kendaraan roda tiga yang dipakai untuk mengangkut barang.

Awalnya pemerintah kolonial Belanda merasa senang dengan transportasi baru ini. Jumlah becak meningkat pesat ketika Jepang datang ke Indonesia pada 1942. Kontrol Jepang yang sangat ketat terhadap penggunaan bensin dan larangan kepemilikan kendaraan bermotor pribadi menjadikan becak sebagai satu-satunya alternatif terbaik moda transportasi di kota Jakarta. Bahkan penguasa membentuk dan memobilisasi kelompok-kelompok, termasuk tukang becak, demi kepentingan perang melalui pusat pelatihan pemuda, yang mengajarkan konsep politik dan teknik organisasi.

Pasca perang, ketika jalur dan moda transportasi kian berkembang, becak tetap bertahan. Bahkan menjadi transportasi yang menyebar hampir di seluruh Indonesia. Pada pertengahan hingga akhir 1950-an terdapat 25.000 hingga 30.000 becak di Jakarta. Jumlah becak membengkak hingga lima kali lipat pada 1970-an.

Sejak 1980 keberadaan becak mulai dibatasi, antara lain dengan memberlakukan Daerah Bebas Becak. Penggantinya adalah helicak, minicar, dan bajaj yang menggunakan mesin. Razia becak sering diadakan pada daerah tertentu. Becak yang dianggap melanggar aturan disita. Setelah terkumpul banyak dibuang ke perairan kepulauan Seribu untuk dijadikan rumpon.

Source : Majalah Arkeolog Online

Kategori:Seputar Jakarta
  1. 23 Juni 2011 pukul 1:50 PM

    kasian ye……
    jadi pengen naek becak

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: