Beranda > TOKOH BETAWI > Haji Bokir Bin Dji’un

Haji Bokir Bin Dji’un

Nama : Haji Bokir bin Dji’un
Lahir : Cisalak, Bogor, 25 Desember 1925
Meninggal : Jakarta, Jumat 18 Oktober 2003
Agama : Islam
Isteri : Tiga orang
Anak : Lima orang
Orang Tua : Dji’un
Profesi : Seniman Topeng Betawi
Karir : Bermain pada sekitar 50-an film

Tokoh Kesenian Topeng Betawi

Tokoh kesenian topeng Betawi Haji Bokir bin Dji’un, meninggal dunia dalam usia 77 tahun pada hari Jumat (18/10) sekitar pukul 05.30. Jenazah dimakamkan siang harinya setelah shalat Jumat di pemakaman Kampung Keramat, Cipayung, Jakarta Timur. Sejumlah tokoh topeng betawi dan lenong turut mengantar jenazah Bokir, seperti Nasir, Omas, dan Hajah Nori. Sekitar pukul 04.30, ia tidak sadarkan diri setelah keluar dari kamar mandi di rumahnya di Kampung Setu, Kelurahan Setu, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Kemudian dibawa ke Rumah Sakit Pasar Rebo, Jakarta Timur, dan meninggal sekitar pukul 05.30.Bokir yang dilahirkan di Cisalak, Bogor, 25 Desember 1925, itu sudah lama mengidap penyakit darah tinggi. Ia meninggalkan seorang isteri, lima anak dan sembilan cucu. Sebelum meninggal, Bokir tinggal dengan istri ketiganya Namah. Dua istrinya telah meninggal dunia.Ayah Bokir, Dji’un, juga seorang pemain topeng Betawi semasa kolonial. Hampir seluruh hidup Bokir dipersembahkan untuk kesenian topeng dan lenong Betawi. Ia sudah bermain topeng Betawi sejak usia 13 tahun. Pada mulanya ia sebagai pemain kendang sampai rebab. Kemudian ia mendirikan dan memimpin kelompok topeng Betawi Setia Warga sejak tahun 1960-an hingga akhir hayatnya. Pada awal tahun 1970-an Setia Warga sering tampil di TVRI.Penampilan terakhir Bokir dan kelompoknya, September 2002 lalu, di sebuah hajatan perkawinan di Cilangkap. Mereka memainkan cerita Salah Denger yang-antara lain-didukung Bolot, Malih, dan Bodong. Mandra dan Omas, pemain topeng betawi yang kemudian sebagai pemain sinetron, adalah keponakan Bokir.Selain main topeng dan lenong, Bokir pernah bermain pada sekitar 50-an film, termasuk film Petualangan Cinta Nyi Blorong (1986). Film yang dibintangi Suzanna dan disutradarai Sisworo Gautama Putra itu ditayangkan oleh RCTI pukul 13.00 bertepatan dengan hari wafat Bokir. Ia juga tampil dalam sejumlah sinetron, di antaranya Koboi Kolot, Fatimah, dan Angkot Haji Imron.

Kategori:TOKOH BETAWI
  1. rambang
    27 Mei 2011 pukul 8:19 AM

    Saya menonton lenong pada sekitar tahun 1960 didaerah Kebayoran. Masyarakat disini pada umunya menanggap kesenian tersebut pada saat acara nikahan atau sunatan.Mungkin saat itu bang Bokir, Bolot, sedang gagah gagahnya. Pada saat hajatan di malam hari banyak kegiatan yang dilakukan oleh orang orang yang lain seperti main dadu koprok, puter dan lainnya. Bandar dadu koprok dan kawan2nya umumnya sudah mengetahui angka berapa yang akan keluar pada dadu yang berada dibawah tempurung kelapa. Kalau sekiranya akan merugi maka sang rekan akan segera mematikan lampu dan mengambil pasangan yang ada sambil berteriak ada polisi,ada polisi dan selesailah satu babak permainan. Demikian juga dengan dadu puter yang dilengkapi dengan rem yang dimainkan dikaki. Kalau ada yang protes maka rekan rekannya yang lain akan menutup permainan seperti yang dilakukan di dadu koprok.
    Kesukaan saya adalah makan soto mi, asinan betawi dan toge goreng.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: