Beranda > SEJARAH > MUSIK MELAYU BETAWI Sepengetahuan Mathar Moehammad Kamal (1)

MUSIK MELAYU BETAWI Sepengetahuan Mathar Moehammad Kamal (1)

2 (DUA) TAHUN lalu, bukan bintang film dan biduanita Malaysia Kasma Booty yang sukses di hati rakyat Indonesia, berkunjung ke Medan. Wanita ayu yang sekarang sudah jadi nenek gaek dan gemuk itu ternyata masil juga belum habis gulanya. Masih berlimpah simpati ditumpahkan kepadanya — terutama dari kalangan yang masih gayeng dengan lagu Melayu. Beberapa orkes Melayu yang masih nyempil di kota Deli iadi sibuk untuk menyelenggarakan pertunjukan bersama sang nenek. Juga para bangkot, seperti komponis Lili Suherty, Adnan Lubis dan penyanyi tua Rukiah. Sahdan, sesudah itu memang jelas musik ini belum sudi mati. Memang sementara ini orkes-orkes tersebut banyak yang terdesak ke kampung. Untuk mencoba membahas jaringan musik jreng-jreng di kota mereka selalu menderita, karena cemooh.

Untunglah ada pasukan bertahan yang bernama Budi Pekerti yang dipimpin oleh dua serangkai Adnan Lubis dan Effendy Arif. Pemimpim yang berdarah Mandailing ini boleh bangga lantaran mampu bertahan sejak tahun 1930. Bahkan sekarang ini sudah berani pula unjuk muka di layar TVRI studio Medan. “Kami tetap teguh pada kepribadian”, kata Adnan Lubis, 41 tahun, mencoba mencari sebab perkumpulannya dapat awet. Elektronik Tapi pemusik yang juga direktur radio niaga Alnora ini menerangkan bahwa kepribadian saja tidak cukup. Satu lagi yang selalu diingatnya adalah : mengikuti perubahan Jaman. “Sekarang lagu Melayu yang kami bawakan sudah kami iringi dengan alat musik elektronik”, katanya. Demikianlah orkes ini memang menyimpan instrumen organ, giar listerik dan drum yang juga mudah digauli oleh musik Melayu di ibukota. Hanya bedanya rombongan Budi Pekerti ini selain giat menyanyi dan memetik gitar listerik, tidak pernah ketinggalan menyuguhkan tari-tarian yang jumlahnya 2 pasang. 7 penabuh musik dan 4 penyanyi Budi Pekerti pernah membuat rekaman melalui pabrik piringan hitam Lokananta — Sala — pada tahun 1959. Tak kurang dari 12 lagu sebagai muatannya. Berbeda dengan lagu yang dinamakan sebagai “lagu Melayu” masa ini yang dang-dang-dut lagu Melayu ini kabarnya asli. Hal ini menjadi penting sekarang, berhubung makin kacaunya pengertian musik Melayu. Apalagi sekarang sudah ada juga yang bernama lagu Melayu Pop.

Menurut yang tahu soal-soal ini, musik Melayu dinyanyikan dengan penuh perasaan, dan liriknya biasanya berputar tidak saja di sekitar percintaan tetapi juga kchidupan biasa, dunia nelayan, petani yang terangkai dalam pantun-pantun yang memberikan suasana yang kilas. Ia punya kemungkinan besar untuk dipakai dalam bermacam-macam keramaian, karena temponya dapat dibuat sesukanya. Kadangkala menjadi blues, kadangkala seperti irama rumba dan menurut Adnan bisa juga jadi ca-ca-ca atau tango. Tak heranlah sering lagu Kuala Deli misalnya yang bertempo pelan itu selalu dirangkaikan dengan lagu Mainang Pulau Kampai atau Tanjung Katung yang gembira dan panas. “Rangkaian ini gunanya agar tidak membosankan”, ujar Adnan. Akhirnya dengan cara ini pula mereka dapat bertahan tanpa kehilangan warna aslinya. Calti Tokoh musik Melayu seperti Lili Suheiry, yang memimpin orkes Studio RRI Nusantara III Medan berkata: “Lagu-lagu sejenis yang dibawakan oleh penyanyi Mus Mulyadi bukan lagu Melayu. Banyak orang yang sudah dibikin keliru selama ini dengan istilah tersebut”. Bagaimana sebenarnya musik Melayu yang betul itu? Jawab Suheiry: “Kalau Mus Mulyadi dan kawan-kawannya mau tahu, apa itu lagu Melayu, datanglah dan belajarlah ke Medan. Atau paling kurang ke Malaysia sana. Saya bersedia menunjukkan padanya, seperti juga saya perlihatkan pada Titiek Puspa dan Mus Mualim”. Lalu Adnan Lubis menuding apa yang disebut lagu Melayu lewat kota Jakarta, sebenarnya bukan lagu Melayu tetapi irama India. Lalu ia usul agar Dinas Kebudayaan ccpat-cepat melongok kerancauan ini, agar cepat aman.

Musik Melayu pada akhirnya bukan ditentukan oleh sebuah gendang saja, karena cirinya yang khas justeru datang dari biola, gendang ronggeng, akordeon, bambam dan kadangkala piano. Hamzah Dolmat yang sering muncul di TV Malaysia menambahkan dengan oud (gambus), serunai dan gong. Irama Melayu kelahiran Deli atau Malaysia tidak pernah memakai gendang anjang yang dipukul kulitnya dari kiri-kanan, seperti gendang “calte” dalam film-film India. Lebih daripada itu, ada yang disebut “grenek”, yakni alunan suara yang sebetulnya improvisasi penyanyi solo. Ia merupakan alunan yang dipanjangkan pada satu-satu sukukata yang tak terdapat dalam not, yang terasa juga pada penggesek biola yang lihai serta juga penabuh gendang samping. Bahkan salah satu dari 2 penabuh gendang ini khusus bertugas memproduksi grenek. Dengan cara begini, lagu Mus Muladi yang paling tersohor sekarang, Hitam Manis, memang boleh saja dituduh versi calti. Tapi Hamzah Dolmat sendiri juga kini sering mengawinkan unsur Arab dan India, seperti pada lagunya yang bernama Tak Guna, sehingga kalau mau asli-aslian, iapun tak asli lagi. Kabarnya di Malaysia ada yang disebut irama Zapin, itu musik yang berbau Arab, yang seringkali mempergunakan tamborin sebagai alat pelengkapnya. Di Tanah Deli orang belum terlibat mencampur- baurkan yang asli dengan yang begini dan begitu. Meskipun kini sebenarnya sudah menganga pertanyaan: buat apa asli, kalau tidak disukai? (TEMPO,7 September 1974)

SEKILAS SEJARAH MUSIK MELAYU (1)

(Peranakan Arab dan Musik Melayu Moderen)

Sejak kapan perhelatan perkawinan dimeriahkan hiburan? Paling sedikit di Batavia sejak menjelang akhir abad ke-18, begitulah laporan seorang pelancong Jawa bernama Sastrodarmo yang berkunjung ke Batavia pada zaman itu. Jenis hiburan pun dilaporkannya antara lain gambus dengan lagu-lagu Arab.

Gambus adalah musik yang dibawa peranakan Arab dari Hadramaut (Yaman). Perantau Arab ini menurut C.C. Berg memang ramai sekali berdatangan ke Hindia Belanda pada abad ke-18 dan menunjukkan eskalasi pada abad ke-19 .

Tentu saja sulit bagi kita untuk melacak grup gambus yang populer pada abad-abad tersebut. Catatan yang dapat dipertanggungjawabkan berasal dari era menjelang dan sesudah PD II. Berikut ini rangkuman percakapan KSK dengan seorang penyanyi lagu Melayu yang terkenal dengan lagunya Ya Mustafa yaitu Munif Bahaswan yang berlangsung pada tanggal 18 April 2003 di Jakarta.

EKSTRA MELAYU

Market gambus bukan hanya kalangan peranakan Arab, tetapi orang-orang non Arab pun banyak yang menyukai gambus. Mempertimbangkan selera market, menurut Munif, orkes gambus sering membawakan extra lagu Melayu, atau extra Melayu. Market di kalangan non Arab makin meluas, akhirnya pada tahun 1950 awak grup-grup gambus yang ada seperti Al Wardah, yang pada awalnya dipimpin Umar Hamada kemudian Muchtar Lutfi, mendirikan Orkes Melayu Moderen Sinar Medan di bawah pimpinan Umar Fauzi Aseran. Disebut orkes Melayu moderen karena menggunakan alat tiup (brass) seperti klarinet, saxophone, dan trompet. Kemudian hari disebut Orkes Melayu saja, yang sering disingkat OM.

Trend ini diikuti oleh awak gambus Al-Wathon pimpinan Hassan Alaydrus yang mendirikan OM Kenangan pimpinan Hussein Aidit. Sementara itu awak orkes gambus Surabaya Al Afan pimpinan A. Kadir, menurut Munif, mendirikan OM Sinar Kemala pimpinan A. Kadir juga. Menurut Munif, mantan Mendikbud Fuad Hassan pernah bermain biola untuk orkes gambus Al Afan. Dalam percakapan dengan penulis, Hassan Alaydrus juga memberikan kesaksian yang sama bahwa Fuad Hassan pernah bermain gambus. Namun kepada penulis Fuad Hassan mengatakan bahwa ia tak pernah bermain gambus melainkan ikut orchestra besar, mungkin semacam New York Philarmonic Orchestra.

Abdul Haris, M. Thahar, dan Hussein Bawafi adalah pengarang lagu Melayu generasi pertama. A. Haris terkenal dengan lagu Kudaku Lari. Lagu ini diilhami oleh back sound film Mesir Syaifi wal Qalbi yang dibintangi Abdul Wahab. Wahab adalah bintang film dan penyanyi Mesir yang amat digemari di Indonersia. Penyanyi Mesir perempuan yang nyaris menjadi mitologi “persatuan Arab”adalah Ummi Kalsum.

M. Thahar mengarang lagu Cinta Hampa. Lagu ini mencuat merobek cakrawala musik Melayu berkat suara yang gurih Hasnah Thahar, isteri M. Thahar. Bawafi muncul di zaman itu dengan lagunya Khayal dan Penyair, tetapi lagunya yang mencuat adalah Seroja.

Lagu-lagu Melayu yang lahir di zaman ini meski pun mengalami up dating dibanding dengan lagu Melayu klasik yang ditulis oleh penggubah-penggubah N.N. (tak dikenal) seperti lagu Seringgit Dua Kupang yang kini didangdutkan menjadi Ayam Jago Jenggernya Merah, tetapi menurut Munif belum mencapai format lagu yang disebut songform. Struktur sebuah lagu yang disebut songform adalah terdiri atas 32 bar dengan bagian yang diulang (refrein) A1 + A2, klimaks (yang malah disebut refrein), dan kembali kepada A1 atau A2, atau malah muncul A3. A3 adalah syair yang bukan pengulangan dari bait-bait sebelum klimaks.

(Munif yang kini berusia 68 tahun dikenal sebagai penyanyi yang serba bisa, ia pun mahir menyanyikan lagu jazz, dan untuk kurun waktu yang lama ia bersama Rudy Rusadi dan Dudung menjadi vocal-grup kelompok terkenal Los Morenos. Ketika tamat pendidikan dasar di Al-Irsyad, Batavia, Munif beroleh beasiswa dari Irak yang ketika itu dipimpin oleh Raja Faisal).

S.EFFENDI NYARIS MENINJU ISKANDAR

Penulis mengatakan kepada Munif bahwa ia adalah penyanyi Melayu legendaris, Munif mengelak seraya menyebut nama Effendi. Tentu tidak perlu digelar perdebatan, baiklah didengar argumentasi Munif.

Effendi adalah pelopor lagu Melayu dengan format songform, lagu ciptaannya itu dibawakan dengan suara soprano bercengkok. Dan tidak pula ia menempuh karirnya dengan jalan yang mudah. Kepada Munif, Effendi mengungkap riwayat hidupnya.

S. Effendi dilahirkan dengan nama Said Arrasyidi di Bondowoso sekitar tahun 1930. Pada sekitar tahun 1952 pemuda Said merantau ke Jakarta dan melamar di RRI Stodio Jakarta. Namun lelah menunggu lamaran tak kunjung berjawab. Maka Said mendapat pekerjaan, yang bersifat non seni, di Kalimantan. Pada suatu hari yang menerima surat dari familinya di Jakarta bahwa lamarannya bekerja di RRI diterima. Said meluncur ke Jakarta.

Ia kaget bukan kepalang ketika di latihan di studio RRI dengan iringan Orkes Studio Djakarta (OSD) pimpinan Josd Clebert ia disodorkan partitur. Said tidak mengenal noot balok. Ia tahu noot angka. Sal Salius, seorang penyanyi lagu seriosa, melihat bakat yang luar biasa yang dimiliki Said menjadi sukarelawan mengajarkan Said noot balok. Dan Said dalam waktu cepat menguasainya. Ia mulai bernyanyi dan dikenal. Lalu ia melengkapi namanya menjadi Said Effendi. Nama family Arrasyidi tak dipakainya. Bahkan kemudian hari ia lebih suka memakai nama S. Effendi saja. Nama Effendi adalah sangat lazim digunakan dan amat disukai di kalangan masyarakat Mesir, apalagi setelah di bioskop Alhambra, Sawah Besar, diputar berbulan-bulan film Mesir Bul Bul Effendi.

Effendi mengarang lagu pertama berjudul Bachtera Laju. Dengan bersemangat ia memasuki kamar kerja komponis Iskandar, ayah penyanyi Diah Iskandar yang dijuluki Connie Francis Indonesia. Iskandar sedang bermain piano menerima naskah Effendi tanpa menoleh. Setelah menatap naskah itu beberapa menit kemudian naskah itu diremas dan dilemparkan ke keranjang sampah. Darah menggelegak di kepala Effendi. Ia meninggalkan ruangan Iskandar dan menuju kantin RRI dengan niat meninju Iskandar. Sesaat menunggu pikirannya berubah.

Bachtera Laju meroket sampai ke negara jiran. Setelah itu Effendi menulis puluhan lagu dengan standard songform. Lagunya bagus-bagus semua, apalagi ia yang menyanyikannya. Pada tahun 1980-an Effendi meninggal dunia. Namun namanya tetap dikenang. Dan anehnya, terutama di Malaysia. Seniman Malaysia acapkali mengadakan acara memperingati Effendi.

“Saya Indonesia”, kata Munif

Munif dan M. Mashabi adalah dua penyanyi tersohor yang nyaris muncul bersamaan di sekitar tahun 1955. Munif pandai mencipta lagu. Hingga saat ini ia telah mencipta sebanyak 75 lagu Melayu dan beberapa lagu Arab. M. Mashabi, atau Mamat. Mashabi adalah nama famili, namanya sendiri Muhammad. Ia lahir dan dibesarkan di Kebon Kacang, Tenabang. Ciptaan Mashabi tidak banyak, mungkin tidak sampai 20 buah. Tetapi banyak ciptaannya yang ia nyanyikan sendiri yang tersohor misalnya Ratapan Anak Tiri yang sempat meledak dan menjadi tema film Ratapan Anak Tiri garapan Sandy Suwardy.

Munif pandai berdendang Melayu, tetapi menyanyikan lagu Arab pun jago. Di samping Ya Mustafa yang mencapai hits, lagu Meester Machmud pun meledak. Lagu ciptaan Munif Ya Gazibni banyak disukai khalayak penggemar musik.

(Pada tahun 1965 Munif diundang untuk bernyanyi di Yaman. Ia menyanyikan lagu-lagu Melayu dan Arab dengan iringan gitar yang ia mainkan sendiri. Sambutan publik cukuplah. Dan Munif pun diwawancara Televisi Yaman. Ketika pewawancara menanyakan ia orang mana, dengan tegas Munif berkata bahwa ia orang Indonesia. Pewawancara menukas, bukankah anda menggunakan nama famili Bahaswan, mestinya anda orang Hadramaut, Yaman. Munif menandaskan lagi bahwa dirinya adalah orang Indonesia, masalah nama famili Bahaswan itu adalah soal biologi. Alangkah gusarnya sang pewawancara. Sejak wawancara itu Munif diboikot wartawan Yaman).

Peran kaum peranakan Arab cukup signifikan dalam musik Melayu. Juga di Malaysia. Dua penyanyi Melayu yang tersohor di Malaysia, SM Salim dan Syarifah Aini berdarah Arab. Meski perlu dicatat pada sekitar tahun 1956 muncul OM Bukit Siguntang pimpinan anak Pecenongan A. Chalik. Namun haruslah diakui peran serta peranakan Arab dalam bidang ini. Mereka juga penggubah syair-syair yang indah. Lagu-lagu ciptaan Munif, misalnya Cinta Direkayasa, M. Mashabi Rasa Cinta, Hussein Bawafi Budi, Effendi Khayalan Suci, A. Kadir Keagungan Tuhan, adalah syair lagu dengan cita rasa yang tinggi. Menurut Munif, penggubah lagu seperti Hussein Bawafi sangat mendalami karya sastra Amir Hamzah dan Chairil Anwar.

BINA RIA

Sebuah konkurs bernyanyi lagu-lagu Effendi yang diadakan di Singapura pada sekitar tahun 1967-1968 dimenangkan oleh seorang pemuda Indonesia bernama Oma Irama. Sebenarnya ia penyanyi lagu-lagu Barat populer. Bukan untuk pertama kali ia menghikuti kongkurs. Sebelumnya juga ia mendapat tempat yang berarti dalam kongkurs lagu Barat populer. Kala itu ia menyanyikan lagu I who have nothing.

Rhoma Irama menjadi “mazhab”, ia adalah sebuah tonggak dalam perjalanan musik Melayu. Aliran ini ramai pengikutnya hingga kini. Tak banyak lagi yang “mengamalkan” musik Melayu moderen pada tahun 1970 kecuali M. Mashabi. Tetapi kelompok musik Mashabi hanya dapat ruang bermain di tempat yang terlalu bersahaja dengan sound system bertenaga accu. Dan Mashabi pun pergi ke haribaanNya dalam usia 40-an, di tahun 1970-an, pada saat musik Melayu modern yang ikut dirintisnya memudar. (24-April-2010/Kampung Betawi.com)

MELAYU dari berbagai sumber di Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Dangdut merupakan salah satu dari genre seni musik yang berkembang di Indonesia. Bentuk musik ini berakar dari musik Melayu pada tahun 1940-an. Dalam evolusi menuju bentuk kontemporer sekarang masuk pengaruh unsur-unsur musik India (terutama dari penggunaan tabla) dan Arab (pada cengkok dan harmonisasi). Perubahan arus politik Indonesia di akhir tahun 1960-an membuka masuknya pengaruh musik barat yang kuat dengan masuknya penggunaan gitar listrik dan juga bentuk pemasarannya. Sejak tahun 1970-an dangdut boleh dikatakan telah matang dalam bentuknya yang kontemporer. Sebagai musik populer, dangdut sangat terbuka terhadap pengaruh bentuk musik lain, mulai dari keroncong, langgam, degung, gambus, rock, pop, bahkan house music.

Penyebutan nama “dangdut” merupakan onomatope dari suara permainan tabla (dalam dunia dangdut disebut gendang saja) yang khas dan didominasi oleh bunyi dang dan ndut. Nama ini sebetulnya adalah sebutan sinis dalam sebuah artikel majalah awal 1970-an bagi bentuk musik melayu yang sangat populer di kalangan masyarakat kelas pekerja saat itu.

Dangdut kontemporer telah berbeda dari akarnya, musik Melayu, meskipun orang masih dapat merasakan sentuhannya. Orkes Melayu (biasa disingkat OM, sebutan yang masih sering dipakai untuk suatu grup musik dangdut) yang asli menggunakan alat musik seperti gitar akustik, akordeon, rebana, gambus, dan suling, bahkan gong. Pada tahun 1950-an dan 1960-an banyak berkembang orkes-orkes Melayu di Jakarta yang memainkan lagu-lagu Melayu Deli dari Sumatera (sekitar Medan). Pada masa ini mulai masuk eksperimen masuknya unsur India dalam musik Melayu. Perkembangan dunia sinema pada masa itu dan politik anti-Barat dari Presiden Sukarno menjadi pupuk bagi grup-grup ini. Dari masa ini dapat dicatat nama-nama seperti P. Ramlee (dari Malaya), Said Effendi (dengan lagu Seroja), Ellya (dengan gaya panggung seperti penari India, sang pencipta Boneka dari India), Husein Bawafie (salah seorang penulis lagu Ratapan Anak Tiri), Munif Bahaswan (pencipta Beban Asmara), serta M. Mashabi (pencipta skor film “Ratapan Anak Tiri” yang sangat populer di tahun 1970-an).

Gaya bermusik masa ini masih terus bertahan hingga 1970-an, walaupun pada saat itu juga terjadi perubahan besar di kancah musik Melayu yang dimotori oleh Soneta Group pimpinan Rhoma Irama. Beberapa nama dari masa 1970-an yang dapat disebut adalah Mansyur S., Ida Laila, A. Rafiq, serta Muchsin Alatas. Populernya musik Melayu dapat dilihat dari keluarnya beberapa album pop Melayu oleh kelompok musik pop Koes Plus di masa jayanya.

Dangdut modern, yang berkembang pada awal tahun 1970-an sejalan dengan politik Indonesia yang ramah terhadap budaya Barat, memasukkan alat-alat musik modern Barat seperti gitar listrik, organ elektrik, perkusi, terompet, saksofon, obo, dan lain-lain untuk meningkatkan variasi dan sebagai lahan kreativitas pemusik-pemusiknya. Mandolin juga masuk sebagai unsur penting. Pengaruh rock (terutama pada permainan gitar) sangat kental terasa pada musik dangdut. Tahun 1970-an menjadi ajang ‘pertempuran’ bagi musik dangdut dan musik rock dalam merebut pasar musik Indonesia, hingga pernah diadakan konser ‘duel’ antara Soneta Group dan God Bless. Praktis sejak masa ini musik Melayu telah berubah, termasuk dalam pola bisnis bermusiknya.

Pada paruh akhir dekade 1970-an juga berkembang variasi “dangdut humor” yang dimotori oleh OM Pancaran Sinar Petromaks (PSP). Orkes ini, yang berangkat dari gaya musik melayu deli, membantu diseminasi dangdut di kalangan mahasiswa. Subgenre ini diteruskan, misalnya, oleh OM Pengantar Minum Racun (PMR) dan, pada awal tahun 2000-an, oleh Orkes Pemuda Harapan Bangsa (PHB).

BANGUNAN LAGU

Meskipun lagu-lagu dangdut dapat menerima berbagai unsur musik lain secara mudah, bangunan sebagian besar lagu dangdut sangat konservatif, sebagian besar tersusun dari satuan delapan birama 4/4. Jarang sekali ditemukan lagu dangdut dengan birama 3/4, kecuali pada beberapa lagu masa 1960-an seperti Burung Nuri dan Seroja. Lagu dangdut juga miskin improvisasi, baik melodi maupun harmoni. Sebagai musik pengiring tarian, dangdut sangat mengandalkan ketukan tabla dan sinkop.

Bentuk bangunan lagu dangdut secara umum adalah: A – A – B -A,

namun dalam aplikasi kebanyakan memiliki urutan menjadi seperti ini:

Intro – A – A – Interlude – B (Reffrain) – A – Interlude – B (Reffrain) – A

Intro dapat berupa vokal tanpa iringan atau berupa permainan seruling, selebihnya merupakan permainan gitar atau mandolin. Panjang intro dapat mencapai delapan birama.

Bagian awal tersusun dari delapan birama, dengan atau tanpa pengulangan. Jika terdapat pengulangan, dapat disela dengan suatu baris permainan jeda (interlude). Bagian ini biasanya berlirik pengantar tentang isi lagu, situasi yang dihadapi sang penyanyi.

Lagu dangdut standar tidak memiliki refrain, namun memiliki bagian kedua dengan bangunan melodi yang berbeda dengan bagian pertama. Sebelum memasuki bagian kedua biasanya terdapat dua kali delapan birama jeda tanpa lirik (interlude). Bagian kedua biasanya sepanjang dari dua kali delapan birama dengan disela satu baris jeda tanpa lirik. Di akhir bagian kedua kadang-kadang terdapat koda sepanjang empat birama. Lirik bagian kedua biasanya berisi konsekuensi dari situasi yang digambarkan bagian pertama atau tindakan yang diambil si penyanyi untuk menjawab situasi itu.

Setelah bagian kedua, lagu diulang penuh dari awal hingga akhir. Lagu dangdut diakhiri pada pengulangan bagian pertama. Jarang sekali lagu dangdut diakhiri dengan fade away.

Interaksi dengan musik lain

Mudahnya dangdut menerima unsur ‘asing’ menjadikannya rentan terhadap bentuk-bentuk pembajakan, seperti yang banyak terjadi terhadap lagu-lagu dari film ala Bollywood dan lagu-lagu latin. Kopi Dangdut, misalnya, adalah “bajakan” lagu yang populer dari Venezuela.

Dangdut memang disepakati banyak kalangan sebagai musik yang membawa aspirasi kalangan masyarakat kelas bawah dengan segala kesederhanaan dan kelugasannya. Ciri khas ini tercermin dari lirik serta bangunan lagunya. Gaya pentas yang sensasional tidak terlepas dari nafas ini.

Panggung kampanye partai politik juga tidak ketinggalan memanfaatkan kepopuleran dangdut untuk menarik massa. Isu dangdut sebagai alat politik juga menyeruak ketika Basofi Sudirman, pada saat itu sebagai fungsionaris Golkar, menyanyi lagu dangdut.

Walaupun dangdut diasosiasikan dengan masyarakat bawah yang miskin, bukan berarti dangdut hanya digemari kelas bawah. Di setiap acara hiburan, dangdut dapat dipastikan turut serta meramaikan situasi. Panggung dangdut dapat dengan mudah dijumpai di berbagai tempat. Tempat hiburan dan diskotek yang khusus memutar lagu-lagu dangdut banyak dijumpai di kota-kota besar. Stasiun radio siaran yang menyatakan dirinya sebagai “radio dangdut” juga mudah ditemui di berbagai kota.(diambil dari Wikipedia bebas)

LEGENDA MUSIK MELAYU BETAWI (by Mathar Moehammad)

Pada awalnya musik melayu didominasi oleh irama Melayu Deli,yang nyanyiannya dijadikan pengiring tari-tarian.Begitu dominannya pengaruh Melayu Deli, jika orang menyebut melayu,tentunya dimaksud adalah “Melayu Deli”. pada tahun 1955,Orkes Melayu Chandralela pimpinan husin Bawafi dengan penyanyi M.Mashabi, Ellya,Said Effendi, Juhanna Satar dan Elvy.S, mulai popules. Tapi masah ada lagi OM Bukit Siguntang pimpinan A.Chalik dan Sinar Kemala pimpinan A.Kadir.

Tapi Tenabang,tampatnya Husin Bawafi,M.Mashabi,Munif Bahaswan dan Lutfi Mashabi serta Juhanna Satar, lebih dikenal sebagai pionir perkembangan musik melayu Indonesia. Maestro musik melayu seperti M.Mashabi dan Husin Bawafi sangat terkenal. Lagu-lagu seperti Ratapan anak Tiri (M.Mashabi), Seroja(Husin Bawafi) adalah lagu yang melegenda dan masih tetap bertahan sampai saat ini. Namun masih ada lagu-lagu ciptaan mereka yang sangat populer dan masih dinyanyikan oleh penyanyi masa kini, seperti : Harapan Hampa,Kesunyian Jiwa,Jangan Menggoda,Renungkanlah,Pantun Nasehat (M.Mashabi), Belas Kasih,Beban Asmara (Munif Bahasawan), Bunga Hati,Patah Setangkai,Dosa & Siksa, Fajar harapan,Melati disanggul Jelita (Husin Bawafie), Merana,Pergi Tanpa Pesan,Janji (Ellya), Rintihan Sukma (Juhanna Satar).

Sebagai anak Tenabang,saya ingin terus mempertahankan dan mengingatkan bahwa di Tenabang ada tokoh musisi legendaris yang menajdi pionir bagi tumbuhkembangnya sejarah musik melayu kita. Karya besar mereka sudah memasuki tahun ke 50 dan akan terus bertahan karena kekayaaan karya mereka berasal dari nyanyian jiwa,dicipta untuk memberikan kebahagiaan orang lain yang menikmatinya dan isi syairnya senantiasa menyertakan Tuhan.

Pengamat sejarah Jakarta, Ridwan Saidi, menyatakan bahwa Husein Bawafie yang lahir tahun 1919 itu sebagai penggagas musik Melayu Jakarta dan tokoh yang memegang peranan penting sehingga Jakarta pada tahun 1950-an membukukan kedudukannya sebagai kiblat musik Melayu.Saat itu memang ada beberapa orkes Melayu (OM) besar yang berdiri di Jakarta, seperti OM Sinar Medan di bawah pimpinan Umar Fauzi Asseran dengan penyanyi A Haris dengan lagu hit Kudaku Lari, Hasnah Thahar yang mendendangkan hit Chayal Penyair, Munif Bahaswan dengan lagu pertama Ditinggal Kekasih. Ada juga OM Kenangan pimpinan Hussein Aidit dengan lagu yang terkenal Aiga, OM Bukit Siguntang pimpinan A Khalik dengan vokalis Suhaimi yang mencetak hit Burung Nuri, Halimun Malam, dan Cinta Sekejap, dan akhirnya adalah OM Irama Agung pimpinan Said Effendi yang memopulerkan lagu Khayalan Suci.

MUSIK MELAYU (diambil dari Wikipedia)

orkes Melayu (biasa disingkat OM, sebutan yang masih sering dipakai untuk suatu grup musik dangdut) yang asli menggunakan alat musik seperti gitar akustik, akordeon, rebana, gambus, dan suling, bahkan gong. Pada tahun 1950-an dan 1960-an banyak berkembang orkes-orkes Melayu di Jakarta yang memainkan lagu-lagu Melayu Deli dari Sumatera (sekitar Medan). Pada masa ini mulai masuk eksperimen masuknya unsur India dalam musik Melayu. Perkembangan dunia sinema pada masa itu dan politik anti-Barat dari Presiden Sukarno menjadi pupuk bagi grup-grup ini. Dari masa ini dapat dicatat nama-nama seperti P. Ramlee (dari Malaya), Said Effendi (dengan lagu Seroja), Ellya (dengan gaya panggung seperti penari India), Husein Bawafie sang pencipta Boneka dari India, Munif Bahaswan, serta M. Mashabi (pencipta skor film “Ratapan Anak Tiri” yang sangat populer di tahun 1970-an).

Dangdut merupakan salah satu dari genre seni musik yang berkembang di Indonesia. Bentuk musik ini berakar dari musik Melayu pada tahun 1940-an. Dalam evolusi menuju bentuk kontemporer sekarang masuk pengaruh unsur-unsur musik India (terutama dari penggunaan tabla) dan Arab (pada cengkok dan harmonisasi). Perubahan arus politik Indonesia di akhir tahun 1960-an membuka masuknya pengaruh musik barat yang kuat dengan masuknya penggunaan gitar listrik dan juga bentuk pemasarannya. Sejak tahun 1970-an dangdut boleh dikatakan telah matang dalam bentuknya yang kontemporer. Sebagai musik populer, dangdut sangat terbuka terhadap pengaruh bentuk musik lain, mulai dari keroncong, langgam, degung, gambus, rock, pop, bahkan house music.

Penyebutan nama “dangdut” merupakan onomatope dari suara permainan tabla (dalam dunia dangdut disebut gendang saja) yang khas dan didominasi oleh bunyi dang dan ndut. Nama ini sebetulnya adalah sebutan sinis dalam sebuah artikel majalah awal 1970-an bagi bentuk musik melayu yang sangat populer di kalangan masyarakat kelas pekerja saat itu. Kalau ditarik garis ke belakang, sejak dekade 1950-an, Indonesia memiliki nama-nama yang cukup terkenal sebagai penyanyi melayu. Sebut saja Emma Gangga, Hasnah Thahar, Juhana Satar, Suhaemi, A Chalik, M Syaugi, dan A Harris. Yang disebut terakhir ini pernah mencuri perhatian publik irama melayu lewat lagu India, Awarahum, dan Munif Bahasuan menyanyikan lagu O Petaji. Kedua lagu itu sampai kemari lewat film yang dibintangi Raj Kapoor bintang film India paling top masa itu.

Orkes Melayu atau disingkat dengan OM.

1. Orkes Melayu (OM) di Jakartai OM Sinar Medan pimpinan Umar Fauzi Asseran dengan penyanyi A Haris dengan lagu hit Kudaku Lari, Hasnah Thahar yang mendendangkan hit Chayal Penyair, Munif Bahaswan dengan lagu pertama Ditinggal Kekasih.

2. Orkes Melayu (OM) di Jakarta OM Kenangan pimpinan Hussein Aidit dengan lagu yang terkenal Aiga

3. Orkes Melayu (OM) di Jakarta OM Bukit Siguntang pimpinan A Khalik dengan vokalis Suhaimi yang mencetak hit Burung Nuri, Halimun Malam, dan Cinta Sekejap.

4. Orkes Melayu (OM) di Jakarta OM Irama Agung pimpinan Said Effendi yang memopulerkan lagu Khayalan Suci.

5. Orkes Melayu (OM) di Jakarta OM Chandra Lela pimpinan Husein Bawafie yang sejak tahun 1930-an telah menciptakan ratusan lagu melalui kelompok musiknya, dengan penyanyi M Mashabi dan Munif Bahaswan, telah membuat irama Melayu merajai dunia hiburan Jakarta dan memicu berdirinya orkes Melayu hampir di setiap kelurahan.

Kategori:SEJARAH
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: